Harga Komponen Memori Melonjak, Pasar Smartphone Tertekan dan Sepi Pembeli
- account_circle REZA.Y
- calendar_month Senin, 19 Okt 2026
- print Cetak

Samsung Store Tunjungan Plaza 4 Surabaya (foto: ist)
Zonakini.com – Industri smartphone global menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga komponen memori. Lonjakan biaya produksi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membebani pengiriman ponsel pintar dunia pada kuartal III 2026.
Berdasarkan data lembaga riset International Data Corporation (IDC) yang dikutip dalam laporan CNBC Indonesia, pengiriman smartphone global pada periode tersebut tercatat sebanyak 255,3 juta unit, turun 22 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga komponen memori menjadi perhatian utama karena produsen harus menghadapi biaya produksi yang semakin tinggi. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan sekaligus memengaruhi jumlah perangkat yang mampu diproduksi dan dikirim ke pasar.
Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC, mengatakan lonjakan biaya memori masih memberikan tekanan besar terhadap industri smartphone.
“Biaya memori telah melonjak 350% sejak tahun lalu dan terus naik, menekan keuntungan produsen serta mengurangi jumlah unit yang dapat dikirimkan,” ujarnya.
Kenaikan tersebut membuat produsen perangkat atau original equipment manufacturer (OEM) perlu menyesuaikan strategi bisnis untuk menghadapi perubahan struktur biaya industri.
Di tengah situasi ini, persaingan antarmerek diperkirakan semakin menantang. Produsen harus mempertimbangkan biaya komponen, harga jual perangkat, serta kemampuan konsumen untuk membeli smartphone baru.
IDC juga memperkirakan pasar belum mencapai titik terendahnya. Pemulihan industri smartphone global disebut baru berpotensi terlihat paling cepat pada 2028.
Jika tekanan biaya terus berlanjut, produsen perlu mencari cara untuk menjaga daya saing tanpa semakin membebani konsumen melalui kenaikan harga jual.
Samsung Masih Memimpin, Apple Terus Membayangi
Di tengah penurunan pasar smartphone global, Samsung dan Apple masih bersaing ketat di posisi teratas berdasarkan data pengiriman perangkat.
Samsung mempertahankan peringkat pertama, tetapi jaraknya dengan Apple disebut semakin tipis. Kedua perusahaan juga mengalami penurunan pengiriman, meskipun penurunannya relatif lebih kecil dibandingkan sejumlah produsen lain yang berada di posisi berikutnya.
Dalam laporan tersebut, produsen di peringkat ketiga hingga kelima disebut mengalami penurunan pengiriman lebih dari 29 persen.
Menariknya, Samsung dan Apple justru mencatat kenaikan pangsa pasar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah smartphone yang dikirimkan menyusut, porsi kedua perusahaan dalam pasar global meningkat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penurunan pasar tidak selalu berdampak sama terhadap setiap produsen. Perusahaan yang mampu mempertahankan pengiriman lebih baik daripada pesaing dapat memperoleh porsi pasar yang lebih besar ketika permintaan secara keseluruhan melemah.
Namun, kenaikan pangsa pasar tidak otomatis berarti penjualan kedua perusahaan meningkat. Pangsa pasar dapat bertambah ketika pengiriman pesaing turun lebih tajam.
Dengan biaya komponen yang masih menjadi tantangan, persaingan industri smartphone global diperkirakan akan semakin bergantung pada kemampuan produsen mengelola biaya, mempertahankan konsumen, dan menyesuaikan strategi produk. (*)
- Penulis: REZA.Y
