Googlebook Dibanderol Rp16 Jutaan, Ini 5 Kekurangannya Dibanding Laptop Windows
- account_circle REZA.Y
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- print Cetak

Dok, Jeffrey Hazelwood/Google
ZONAKINI.COM – Googlebook hadir sebagai lini laptop baru yang mengandalkan sistem operasi Googlebook OS serta integrasi erat dengan layanan Google dan perangkat Android. Kehadirannya membuat persaingan di pasar laptop semakin menarik, terutama karena Googlebook menyasar pengguna yang menginginkan perangkat premium dengan pengalaman yang terhubung ke ekosistem Google.
Harga awal Googlebook berada di kisaran 899 dolar AS atau sekitar Rp16 jutaan. Pada rentang harga tersebut, konsumen sebenarnya memiliki banyak pilihan laptop Windows dari berbagai produsen dengan karakter dan spesifikasi yang berbeda.
Googlebook menawarkan RAM 16 GB dan penyimpanan SSD 512 GB pada jajaran awalnya. Selain itu, integrasi dengan Android dan Gemini menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan kepada pengguna.
Namun, spesifikasi tersebut belum tentu membuat Googlebook menjadi pilihan terbaik untuk semua orang. Jika dibandingkan dengan laptop Windows pada kelas harga yang sama, terdapat sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Berikut lima kekurangan Googlebook yang penting diketahui sebelum memutuskan untuk membelinya.
1. Kompatibilitas software belum seluas Windows
Salah satu pertimbangan terbesar ketika membeli laptop adalah ketersediaan aplikasi yang dibutuhkan untuk bekerja atau belajar.
Googlebook memang dapat menjalankan sejumlah aplikasi populer, termasuk Adobe Premiere, Adobe Photoshop, BandLab, Netflix, hingga Microsoft 365. Pengguna juga dapat mengakses aplikasi Android melalui Google Play Store.
Namun, ketersediaan aplikasi tidak selalu berarti seluruh fungsi dan fiturnya sama seperti pada versi Windows. Beberapa aplikasi juga memiliki ketergantungan terhadap layanan berlangganan atau fitur tertentu.
Windows masih unggul dalam hal pilihan software desktop. Banyak aplikasi profesional, program perusahaan, software teknis, hingga aplikasi lama yang sejak awal dikembangkan untuk Windows.
Karena itu, pengguna yang sehari-hari bergantung pada software khusus sebaiknya memeriksa kompatibilitas terlebih dahulu. Beralih ke Googlebook tanpa memastikan dukungan aplikasi bisa menjadi masalah jika program yang dibutuhkan ternyata belum tersedia atau memiliki keterbatasan fungsi.
2. Pilihan game PC tidak sebanyak laptop Windows
Googlebook bukan berarti tidak bisa digunakan untuk bermain game. Pengguna tetap dapat memainkan berbagai game Android melalui Google Play, sementara game PC tertentu bisa diakses menggunakan layanan cloud gaming seperti NVIDIA GeForce NOW.
Masalahnya, metode tersebut berbeda dengan pengalaman bermain game pada laptop Windows.
Pada Googlebook, sejumlah game PC berat tidak dijalankan secara langsung di perangkat. Pemain membutuhkan layanan cloud gaming untuk melakukan streaming permainan dari server ke laptop. Dengan kata lain, kualitas pengalaman bermain juga bergantung pada koneksi internet dan layanan yang digunakan.
Windows menawarkan pilihan yang jauh lebih luas untuk gaming. Pengguna dapat membeli laptop dengan GPU diskrit dan menjalankan berbagai game PC secara lokal.
Bagi pengguna yang hanya sesekali bermain game ringan, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun, gamer yang menginginkan kebebasan memilih game dan menjalankannya langsung dari perangkat masih akan lebih mudah menemukan pilihan di ekosistem Windows.
3. Pilihan model dan konfigurasi hardware masih terbatas
Googlebook masih merupakan platform baru sehingga jumlah perangkat yang tersedia belum sebanyak laptop Windows.
Jajaran awal Googlebook terdiri dari lima model dari Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo. Kelima perangkat tersebut sama-sama membawa RAM 16 GB serta SSD 512 GB, sementara perbedaan terdapat pada prosesor, layar, bobot, dan sejumlah fitur lainnya.
Sebaliknya, pasar laptop Windows menawarkan pilihan yang jauh lebih beragam. Konsumen dapat memilih laptop tipis untuk mobilitas, laptop convertible dengan layar sentuh, workstation untuk pekerjaan berat, hingga laptop gaming dengan kartu grafis khusus.
Pilihan tersebut membuat Windows lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran masing-masing pengguna.
Googlebook memang menawarkan konfigurasi yang cukup menarik untuk laptop premium. Akan tetapi, konsumen yang ingin memiliki banyak pilihan bentuk, spesifikasi, dan kelas perangkat masih akan menemukan Windows lebih fleksibel.
4. Windows lebih fleksibel untuk berbagai perangkat dan periferal
Salah satu kekuatan Googlebook adalah kemampuannya terhubung dengan ekosistem Android dan berbagai layanan Google.
Bagi pengguna HP Android, integrasi tersebut tentu menarik. File, aplikasi, dan berbagai aktivitas dari perangkat Android dapat terhubung lebih erat dengan laptop.
Namun, ada konsekuensi dari pendekatan tersebut. Windows memiliki ekosistem perangkat yang sangat luas dan tidak bergantung pada satu merek smartphone.
Laptop Windows dapat digunakan bersama berbagai jenis printer, penyimpanan eksternal, perangkat produksi konten, aksesori kantor, monitor, hingga periferal gaming selama perangkat tersebut memiliki dukungan yang sesuai.
Untuk pengguna yang memiliki banyak perangkat dari merek berbeda, fleksibilitas seperti ini bisa menjadi faktor penting.
Dengan demikian, keunggulan Googlebook dalam integrasi Android belum tentu menjadi alasan yang cukup bagi semua orang untuk meninggalkan Windows.
5. Harga Rp16 jutaan belum tentu lebih murah secara keseluruhan
Googlebook termurah disebut dibanderol sekitar Rp16 jutaan. Salah satu model pada kelas tersebut menawarkan Intel Core Ultra 5, RAM 16 GB, SSD 512 GB, serta layar OLED 2.8K dengan dukungan touchscreen.
Jika melihat spesifikasinya, harga tersebut memang terlihat menarik untuk sebuah laptop premium.
Namun, persoalannya bukan sekadar melihat kapasitas RAM, penyimpanan, atau resolusi layar. Pada kisaran harga yang sama, laptop Windows memiliki pilihan konfigurasi yang sangat banyak.
Ada laptop Windows yang lebih mengutamakan performa prosesor, ada yang menawarkan GPU lebih kuat, ada pula yang berfokus pada kualitas layar, desain tipis, daya tahan baterai, atau kebutuhan gaming.
Artinya, harga Googlebook tidak otomatis membuatnya menjadi pilihan paling ekonomis. Nilai yang didapat sangat bergantung pada kebutuhan pengguna.
Googlebook akan lebih menarik bagi orang yang memang menginginkan integrasi Android, layanan Google, Gemini, serta pengalaman menggunakan Googlebook OS. Sebaliknya, pengguna yang hanya mencari laptop dengan performa maksimal pada kisaran harga Rp16 jutaan mungkin akan menemukan lebih banyak alternatif di pasar Windows.
Googlebook bukan laptop yang buruk, tetapi target penggunanya berbeda
Lima keterbatasan tersebut bukan berarti Googlebook merupakan produk yang tidak layak dibeli.
Sebagai platform baru, Googlebook justru menawarkan pendekatan berbeda melalui integrasi Android, layanan Google, Gemini, serta sistem operasi yang dirancang untuk pengalaman komputasi modern.
Persoalannya adalah kebutuhan setiap pengguna tidak sama.
Bagi pengguna yang banyak bekerja dengan software Windows tertentu, gemar bermain game PC secara lokal, membutuhkan banyak pilihan hardware, atau sering menggunakan berbagai periferal, Windows masih menawarkan fleksibilitas yang lebih besar.
Sementara itu, Googlebook bisa menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang sudah berada dalam ekosistem Google dan mengutamakan integrasi dengan perangkat Android.
Perbandingan ini juga perlu dilihat dengan mempertimbangkan bahwa Googlebook masih tergolong baru. Seiring bertambahnya perangkat, aplikasi, dukungan hardware, dan ekosistemnya, beberapa keterbatasan tersebut masih mungkin berubah.
Untuk saat ini, calon pembeli sebaiknya tidak hanya melihat spesifikasi di atas kertas. Pastikan sistem operasi dan ekosistem yang dipilih benar-benar sesuai dengan pekerjaan, hiburan, serta perangkat yang digunakan sehari-hari. (zk/ry)
- Penulis: REZA.Y
