Kabut Asap Makin Tebal, Masker Dibagikan: Apakah Anak-Anak Kita Benar-Benar Terlindungi?
- account_circle REZA.Y
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- print Cetak

ZONAKINI.COM – Ada pemandangan yang belakangan ini sulit saya abaikan sebagai seorang ibu. Anak-anak kecil harus mengenakan masker ketika keluar rumah di tengah kondisi udara yang dipenuhi kabut asap.
Mereka tetap harus pergi ke sekolah. Mereka tetap harus beraktivitas dan menjalani rutinitas seperti biasa. Padahal, untuk sekadar menghirup udara dengan nyaman saja, situasinya sudah tidak lagi seperti hari-hari normal.
Kabut asap semakin terasa. Masker mulai dibagikan dan masyarakat pun berusaha mendapatkannya.
Tentu, saya menghargai setiap bentuk kepedulian yang dilakukan untuk membantu masyarakat. Membagikan masker merupakan langkah yang penting, terutama bagi warga yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk.
Namun, sebagai seorang ibu, saya merasa ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak masker yang sudah dibagikan.
Apakah setelah memakai masker, anak-anak kita benar-benar sudah terlindungi?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Masker dapat membantu mengurangi paparan terhadap partikel tertentu di udara. Namun, masker bukan berarti membuat udara di sekitar kita menjadi bersih. Apalagi jika kondisi udara tidak sehat berlangsung selama berhari-hari.
Anak-anak tetap harus keluar rumah untuk sekolah. Mereka menunggu kendaraan, berjalan di luar ruangan, pulang ke rumah, dan dalam kondisi tertentu masih ingin bermain bersama teman-temannya.
Artinya, paparan terhadap udara di luar tidak berhenti hanya karena sebuah masker sudah terpasang di wajah mereka.
Di sinilah kekhawatiran sebagai orang tua muncul.
Kita bisa mengingatkan anak agar memakai masker. Kita bisa mengurangi aktivitas mereka di luar rumah. Kita bisa menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara memburuk.
Tetapi ada satu hal yang tidak mungkin kita lakukan.
Kita tidak mungkin meminta anak-anak berhenti bernapas.
Udara merupakan kebutuhan paling mendasar. Anak-anak juga tidak mempunyai kemampuan untuk memilih udara seperti apa yang akan mereka hirup. Mereka hanya menerima kondisi lingkungan yang tersedia di sekelilingnya.
Karena itu, persoalan kabut asap semestinya tidak berhenti pada pembagian masker.
Masker penting, tetapi jangan sampai keberadaan masker membuat kita merasa bahwa masalah sudah selesai.
Pertanyaan berikutnya harus diarahkan pada kualitas udara.
Seberapa buruk kondisi udara saat ini? Apakah anak-anak masih aman melakukan kegiatan di luar ruangan? Bagaimana dengan sekolah? Bagaimana perlindungan terhadap bayi, ibu hamil, lansia, dan masyarakat yang mempunyai gangguan pernapasan?
Pertanyaan lain juga perlu diajukan.
Bagaimana dengan keluarga yang harus membeli masker berulang kali? Bagaimana dengan masyarakat yang pekerjaannya mengharuskan mereka berada di luar ruangan sepanjang hari?
Mereka tidak bisa begitu saja memilih untuk bekerja dari rumah atau menghindari udara luar.
Kondisi seperti ini juga perlu menjadi perhatian ketika harga masker mulai meningkat. Kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan jangan sampai justru menjadi kesempatan bagi pihak tertentu untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.
Berjualan dan mendapatkan keuntungan tentu merupakan hal yang wajar. Tetapi ketika keuntungan dicari dengan memanfaatkan kepanikan masyarakat, persoalannya bukan lagi sekadar soal perdagangan. Ada pertanyaan tentang kepedulian dan nurani di dalamnya.
Saya membayangkan seorang ibu yang memiliki dua atau tiga anak.
Pagi hari, ia menyiapkan anak-anaknya untuk berangkat sekolah. Sebelum keluar rumah, ia melihat langit yang kelabu dan udara yang dipenuhi kabut.
Kemudian ia memasangkan masker ke wajah anaknya.
Mungkin ada satu pertanyaan yang diam-diam muncul dalam pikirannya.
Apakah anak saya benar-benar aman pergi ke sekolah hari ini?
Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi orang tua, terutama seorang ibu, kecemasan seperti itu bisa terbawa sepanjang hari.
Sebab yang kita bicarakan bukan hanya orang dewasa yang mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Kita sedang membicarakan anak-anak.
Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami mengapa harus memakai masker. Mereka hanya tahu bahwa udara hari itu berbeda. Mereka mungkin bertanya mengapa tidak boleh bermain di luar seperti biasanya.
Anak-anak seharusnya sibuk dengan pelajaran, permainan, teman-teman, dan cita-cita mereka.
Bukan sibuk memikirkan apakah udara yang mereka hirup hari ini aman.
Karena itu, menurut saya, penanganan kabut asap membutuhkan langkah yang lebih menyeluruh.
Masyarakat perlu mendapatkan informasi mengenai kualitas udara yang jelas, cepat, dan mudah dipahami. Orang tua juga perlu mengetahui kapan anak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Sekolah harus mendapatkan panduan yang jelas ketika kualitas udara berada pada kondisi yang tidak sehat. Kelompok rentan membutuhkan perhatian lebih besar.
Dan yang tidak kalah penting, pemerintah serta pihak terkait perlu melakukan langkah serius untuk menangani sumber persoalan, bukan hanya dampaknya.
Sebab masker seharusnya menjadi salah satu bentuk perlindungan, bukan satu-satunya pertahanan masyarakat dari udara yang tercemar.
Saya tidak ingin anak-anak kita tumbuh dengan anggapan bahwa memakai masker di tengah udara penuh asap merupakan sesuatu yang normal.
Saya juga tidak ingin masyarakat perlahan menganggap langit yang tertutup kabut asap sebagai pemandangan biasa.
Lebih dari itu, saya tidak ingin kepedulian terhadap kondisi ini hanya berlangsung sesaat. Hari ini masker dibagikan, foto diunggah, pemberitaan muncul, kemudian perhatian perlahan menghilang.
Sebagai seorang ibu, keinginan saya sebenarnya sederhana.
Saya ingin anak-anak bisa bernapas dengan udara yang sehat.
Saya ingin mereka berangkat sekolah tanpa membuat orang tua terus dihantui kekhawatiran.
Saya ingin mereka bisa bermain dan tumbuh tanpa harus dibatasi karena kualitas udara yang buruk.
Saya ingin generasi berikutnya tumbuh di lingkungan yang sehat, bukan lingkungan yang membuat mereka sejak kecil belajar bagaimana bertahan dari polusi.
Maka, di tengah kondisi kabut asap seperti sekarang, mari tetap saling membantu. Membagikan masker adalah tindakan yang baik dan perlu dilakukan.
Tetapi jangan berhenti sampai di sana.
Mari kita berani mengajukan pertanyaan yang lebih besar.
Bukan hanya, “Berapa banyak masker yang sudah dibagikan?”
Tetapi juga, “Sejauh mana anak-anak kita benar-benar dilindungi dari udara yang mereka hirup setiap hari?”
Anak-anak tidak pernah memilih kabut asap.
Mereka juga tidak memilih untuk hidup dengan udara yang tercemar.
Dan mereka belum memiliki suara yang cukup kuat untuk menuntut lingkungan yang sehat bagi dirinya sendiri.
Karena itulah orang dewasa harus bersuara.
Kita harus memastikan bahwa perlindungan terhadap anak-anak bukan hanya menjadi slogan ketika kabut asap datang, tetapi menjadi tanggung jawab yang benar-benar dijalankan.
Di tengah kabut asap, jangan sampai yang tertutup hanya langit.
Jangan sampai kepedulian dan nurani kita ikut tertutup.
Tentu. Untuk opini seperti ini, penutup akan lebih kuat jika tidak hanya emosional, tetapi juga menuntut langkah konkret dari pemerintah, sekolah, masyarakat, dan pihak terkait.
Berikut versi penutup yang lebih tegas dan solutif:
Karena itu, penanganan kabut asap tidak boleh berhenti pada pembagian masker dan imbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati.
Pemerintah harus memastikan informasi kualitas udara tersedia secara terbuka, akurat, dan mudah diakses. Ketika kualitas udara sudah berada pada tingkat yang membahayakan, harus ada keputusan yang jelas mengenai pembatasan aktivitas luar ruangan, termasuk kegiatan belajar di sekolah.
Sekolah juga tidak boleh hanya menyerahkan persoalan ini kepada orang tua. Harus ada protokol yang tegas ketika kualitas udara memburuk: mengurangi aktivitas di luar ruangan, memastikan ruang kelas memiliki sirkulasi yang layak, serta memberikan perlindungan khusus kepada anak-anak yang memiliki risiko gangguan pernapasan.
Di sisi lain, masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang benar. Masker memang penting, tetapi bukan satu-satunya perlindungan. Orang tua perlu mengetahui kondisi udara setiap hari dan memahami kapan anak harus lebih banyak berada di dalam ruangan.
Namun semua langkah tersebut tetap hanya menjadi solusi sementara jika sumber pencemaran tidak ditangani.
Kita membutuhkan penegakan aturan yang serius terhadap aktivitas yang menyebabkan pencemaran udara. Pencegahan harus dilakukan sebelum kabut asap menjadi bencana kesehatan, bukan setelah masyarakat mulai kesulitan bernapas.
Jangan menunggu rumah sakit dipenuhi anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan untuk kemudian menyadari bahwa persoalan ini serius.
Jangan menunggu lebih banyak sekolah menghentikan aktivitas untuk kemudian bergerak.
Dan jangan menunggu korban jatuh untuk kemudian bertindak.
Anak-anak berhak mendapatkan udara yang bersih tanpa harus meminta.
Mereka berhak pergi ke sekolah tanpa harus mempertaruhkan kesehatan.
Mereka berhak bermain tanpa dibatasi oleh udara yang tercemar.
Karena itu, pembagian masker harus dipandang sebagai langkah darurat, bukan tanda bahwa persoalan telah selesai. Ukuran keberhasilan penanganan kabut asap bukan berapa banyak masker yang dibagikan, melainkan seberapa cepat udara kembali aman dan seberapa kuat masyarakat—terutama anak-anak—dilindungi selama kondisi buruk berlangsung.
Kita boleh membagikan masker hari ini.
Tetapi tugas kita tidak selesai sampai di sana.
Kita harus memastikan sumber masalahnya dihentikan, kualitas udara dipulihkan, dan setiap anak mendapatkan hak paling dasar: menghirup udara yang aman.
Sebab anak-anak tidak bisa memilih udara yang mereka hirup.
Maka kitalah yang harus memastikan udara itu layak untuk mereka.
Jangan hanya lindungi anak-anak dari asap. Lindungi juga masa depan mereka dari lingkungan yang tidak sehat.
Oleh – Harmalia Ocha
Jurnalis | Founder Zonapublis.id|Zonakini.com
Sumber: https://zonapublis.id/kabut-asap-tebal-masker-dibagi-12040/
- Penulis: REZA.Y
