Cara Membuat Pupuk dari Kulit Pisang di Rumah, Praktis dan Bisa Jadi Nutrisi Tambahan Tanaman
- account_circle REZA.Y
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- print Cetak

ZONAKINI.COM – Kulit pisang yang selama ini dianggap sebagai limbah dapur ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk membantu merawat tanaman. Bahan yang biasanya langsung dibuang tersebut mengandung sejumlah mineral, terutama kalium, serta fosfor, kalsium, dan magnesium yang dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman.
Pemanfaatan kulit pisang juga menjadi salah satu cara sederhana untuk mengurangi sampah organik rumah tangga. Daripada berakhir di tempat sampah, kulit buah dapat diolah menjadi pupuk dalam beberapa bentuk, mulai dari pupuk cair hasil fermentasi, bubuk kulit pisang kering, hingga dicampurkan ke dalam kompos.
Meski demikian, pupuk dari kulit pisang sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Kandungan nitrogennya relatif rendah sehingga penggunaannya lebih tepat sebagai pelengkap yang dipadukan dengan kompos atau sumber nutrisi lainnya.
Mengapa kulit pisang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk?
Kulit pisang mengandung mineral yang dibutuhkan tanaman. Salah satu unsur yang cukup menonjol adalah kalium. Unsur ini berperan dalam berbagai proses fisiologis tanaman dan berkaitan dengan pertumbuhan serta perkembangan tanaman, terutama ketika memasuki fase berbunga dan menghasilkan buah.
Selain kalium, kulit pisang juga mengandung fosfor, kalsium, dan magnesium. Namun, jumlah kandungan tersebut dapat berbeda-beda bergantung pada jenis pisang, tingkat kematangan, serta bagaimana kulit tersebut diproses.
Karena itu, penggunaan kulit pisang sebagai pupuk sebaiknya dipandang sebagai upaya memanfaatkan bahan organik yang tersedia di rumah, bukan sebagai pupuk lengkap dengan komposisi nutrisi yang selalu sama.
Hal penting lainnya adalah tanaman tidak serta-merta dapat menyerap seluruh mineral dari kulit pisang yang baru saja dibuang ke tanah. Bahan organik perlu mengalami proses penguraian terlebih dahulu sehingga unsur yang terkandung di dalamnya secara bertahap tersedia bagi tanaman.
Cara membuat pupuk cair dari kulit pisang
Salah satu metode yang cukup mudah dilakukan di rumah adalah mengolah kulit pisang menjadi pupuk cair melalui fermentasi.
Cara ini dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan limbah dapur tanpa harus membuat tumpukan kompos dalam jumlah besar.
Bahan yang diperlukan antara lain kulit pisang, air bersih, gula pasir atau molase, serta wadah seperti botol atau toples.
Pertama, cuci kulit pisang kemudian potong menjadi bagian-bagian kecil. Semakin kecil potongannya, semakin luas permukaan bahan yang dapat mengalami proses penguraian.
Setelah itu, larutkan gula ke dalam air. Salah satu takaran yang dapat digunakan adalah sekitar satu sendok makan gula untuk 250 mililiter air. Untuk wadah berkapasitas sekitar 1,5 liter, takarannya dapat disesuaikan menjadi sekitar dua sendok makan.
Masukkan potongan kulit pisang ke dalam wadah, kemudian tambahkan larutan gula dan air. Jangan memenuhi wadah sampai ke bagian atas. Sisakan ruang beberapa sentimeter untuk menampung gas yang mungkin terbentuk selama fermentasi.
Wadah kemudian ditutup dan disimpan di tempat teduh selama kurang lebih 7-10 hari. Karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas, tutup wadah perlu dibuka sebentar secara berkala untuk mengeluarkannya.
Setelah proses berlangsung, perhatikan perubahan aroma dan warna. Fermentasi yang berjalan baik umumnya menghasilkan aroma asam-manis dan cairan berwarna kecokelatan. Sebaliknya, bau busuk yang sangat menyengat dapat menjadi tanda bahwa proses pengolahan tidak berlangsung dengan baik.
Setelah selesai, cairan dapat disaring untuk memisahkan ampasnya. Sebelum digunakan pada tanaman, cairan hasil fermentasi sebaiknya diencerkan terlebih dahulu. Materi sumber menyarankan perbandingan sekitar 1 bagian pupuk dengan 10 bagian air.
Larutan tersebut kemudian dapat disiramkan ke media tanam di sekitar tanaman. Hindari penggunaan secara berlebihan dan jangan menjadikan larutan pekat sebagai pengganti kebutuhan nutrisi utama tanaman.
Kulit pisang juga bisa dibuat menjadi pupuk bubuk
Jika tidak ingin repot melakukan fermentasi, kulit pisang dapat dikeringkan kemudian diolah menjadi bubuk.
Metode ini mempunyai kelebihan karena hasilnya lebih mudah disimpan dan dapat digunakan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.
Caranya cukup sederhana. Kulit pisang terlebih dahulu dicuci, kemudian dipotong kecil atau memanjang. Selanjutnya, jemur di bawah sinar matahari selama satu hingga dua hari sampai benar-benar kering.
Pengeringan juga dapat dilakukan menggunakan oven dengan suhu rendah. Kulit pisang harus benar-benar kering dan mudah patah sebelum dihaluskan.
Kulit yang sudah kering kemudian digiling menggunakan blender, penggiling, atau alat sederhana seperti ulekan sampai menjadi bubuk.
Simpan bubuk tersebut di dalam wadah yang kering dan tertutup rapat agar tidak mudah terkena kelembapan atau ditumbuhi jamur.
Saat akan digunakan, bubuk kulit pisang dapat ditaburkan di sekitar tanaman atau dicampurkan dengan media tanam. Setelah itu, tutup tipis dengan tanah agar bahan organik tersebut secara perlahan terurai.
Cara paling sederhana: masukkan ke kompos
Bagi yang tidak ingin membuat pupuk cair maupun bubuk, kulit pisang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos.
Potong kulit pisang menjadi bagian kecil, kemudian masukkan ke dalam tumpukan kompos bersama bahan organik lainnya. Potongan yang lebih kecil akan membantu mempercepat proses penguraian.
Kulit pisang juga bisa dikubur langsung di sekitar tanaman. Namun, cara ini membutuhkan waktu karena bahan tersebut harus diuraikan terlebih dahulu oleh mikroorganisme di dalam tanah.
Jika ingin menguburnya, potong kulit menjadi ukuran kecil kemudian benamkan beberapa sentimeter dari permukaan tanah. Sebaiknya jangan menempatkan kulit dalam jumlah banyak tepat di dekat batang tanaman.
Untuk metode kompos, campurkan kulit pisang dengan bahan organik lainnya. Tumpukan perlu sesekali diaduk agar sirkulasi udara tetap baik.
Kompos yang sudah matang umumnya memiliki warna gelap, tekstur menyerupai tanah, dan tidak lagi menghasilkan bau menyengat. Kompos tersebut kemudian dapat dicampurkan ke lapisan atas media tanam.
Apakah pupuk kulit pisang benar-benar bisa membuat tanaman subur?
Manfaat kulit pisang tidak sebaiknya dilebih-lebihkan.
Kandungan mineral di dalamnya memang membuat kulit pisang menarik sebagai bahan pupuk organik, tetapi bukan berarti semakin banyak kulit pisang yang diberikan maka tanaman otomatis semakin subur.
Tanaman membutuhkan berbagai unsur dalam jumlah dan keseimbangan yang berbeda. Nitrogen, misalnya, sangat penting dalam pertumbuhan vegetatif, sedangkan kebutuhan nutrisi tanaman juga berubah sesuai jenis dan fase pertumbuhannya.
Materi sumber menekankan bahwa kulit pisang memiliki kandungan nitrogen yang rendah. Karena itu, penggunaannya lebih tepat dikombinasikan dengan kompos, pupuk kandang yang matang, atau sumber nitrogen lainnya.
Klaim di media sosial mengenai kandungan NPK kulit pisang yang sangat tinggi dan memiliki komposisi tertentu juga tidak sebaiknya diterima begitu saja. Komposisi nutrisi bahan organik dapat bervariasi dan tidak bisa disamakan dengan formula pupuk komersial yang dibuat dengan komposisi terukur.
Jangan langsung mengubur kulit pisang dalam jumlah banyak
Ada anggapan bahwa kulit pisang mentah yang dikubur di sekitar tanaman akan langsung memberikan nutrisi. Kenyataannya, proses tersebut membutuhkan waktu.
Mikroorganisme tanah harus menguraikan bahan organik terlebih dahulu sebelum berbagai unsur di dalamnya tersedia. Karena itu, jika tanaman sedang membutuhkan nutrisi dengan cepat, kulit pisang mentah bukan solusi instan.
Penggunaan kulit pisang dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan persoalan lain, terutama jika dilakukan di dalam rumah. Bahan organik yang belum terurai dapat menarik lalat buah, agas, atau serangga kecil lainnya.
Untuk tanaman dalam ruangan, kulit pisang yang sudah dikeringkan menjadi bubuk atau kompos yang benar-benar matang cenderung lebih praktis dibandingkan meletakkan kulit segar langsung di media tanam.
Tanaman apa yang cocok menggunakan pupuk kulit pisang?
Pupuk berbahan kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tambahan untuk berbagai tanaman, terutama tanaman yang menghasilkan bunga dan buah.
Tomat, cabai, mawar, serta beberapa tanaman buah dapat menjadi pilihan. Namun, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, kebutuhan nutrisi, umur tanaman, dan jenis tanaman.
Untuk tanaman sayuran dalam pot, misalnya, pupuk kulit pisang dapat menjadi bagian dari perawatan bersama kompos dan sumber nutrisi lainnya.
Yang perlu diingat, tidak ada satu jenis pupuk yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan tanaman. Perawatan tanaman yang baik tetap membutuhkan media tanam yang sesuai, air yang cukup, cahaya, serta nutrisi yang seimbang.
Pilih metode sesuai kebutuhan
Ada tiga cara utama yang bisa dipilih.
Jika menginginkan pupuk yang dapat digunakan dalam bentuk cair, fermentasi bisa menjadi pilihan. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar 7-10 hari dan hasilnya perlu diencerkan sebelum diaplikasikan.
Jika ingin bahan yang lebih awet dan mudah disimpan, kulit pisang dapat dikeringkan lalu dijadikan bubuk.
Sementara itu, bagi yang mengutamakan pengolahan limbah organik secara menyeluruh, memasukkan kulit pisang ke dalam kompos merupakan pilihan yang lebih sederhana dan sekaligus membantu menghasilkan bahan organik untuk memperbaiki media tanam.
Dengan demikian, manfaat utama kulit pisang bukan sekadar sebagai “pupuk murah”, tetapi juga bagaimana limbah rumah tangga dapat dikembalikan ke lingkungan dalam bentuk yang lebih bermanfaat.
Pertanyaan Umum Seputar Pupuk Kulit Pisang
Apakah kulit pisang bisa langsung digunakan sebagai pupuk?
Bisa dimanfaatkan, tetapi bukan berarti nutrisi langsung tersedia bagi tanaman. Kulit pisang perlu mengalami proses penguraian terlebih dahulu. Karena itu, mengolahnya menjadi kompos atau mengeringkannya dapat menjadi pilihan yang lebih praktis.
Berapa lama membuat pupuk cair dari kulit pisang?
Fermentasi sederhana membutuhkan sekitar 7-10 hari. Lama proses dapat berbeda tergantung kondisi bahan, wadah, dan metode yang digunakan.
Apakah pupuk kulit pisang bisa digunakan untuk tanaman di dalam rumah?
Sebaiknya hindari penggunaan kulit pisang mentah secara langsung di dalam pot indoor karena dapat menarik serangga. Bubuk kulit pisang kering atau kompos matang lebih praktis digunakan.
Apakah pupuk kulit pisang bisa menggantikan pupuk lainnya?
Tidak. Kulit pisang terutama menarik sebagai sumber tambahan mineral seperti kalium, tetapi kandungan nitrogennya rendah. Tanaman tetap membutuhkan nutrisi lain sehingga pemakaiannya sebaiknya dikombinasikan dengan bahan organik atau pupuk yang sesuai.
Apakah semakin banyak pupuk kulit pisang semakin baik?
Belum tentu. Pemberian berlebihan tidak otomatis mempercepat pertumbuhan tanaman. Gunakan secukupnya dan perhatikan kondisi tanaman serta media tanam.
Apa kesimpulannya?
Kulit pisang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik sederhana di rumah. Pengolahannya dapat dilakukan melalui fermentasi, pengeringan menjadi bubuk, atau pencampuran ke dalam kompos.
Namun, manfaatnya perlu dilihat secara realistis. Kulit pisang bukan pupuk ajaib dan tidak dapat menggantikan seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Justru dengan mengolahnya secara tepat dan menggabungkannya dengan perawatan tanaman yang seimbang, limbah dapur tersebut dapat memberikan manfaat tambahan sekaligus mengurangi sampah organik rumah tangga. (ry)
- Penulis: REZA.Y
