Harga Daging Ayam Naik di 188 Daerah, BPS Ungkap Pemicu Kenaikannya
- account_circle REZA.Y
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- print Cetak

ZONAKINI.COM – Harga daging ayam ras mulai mendapat perhatian pemerintah setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga terjadi di 188 kabupaten/kota pada pekan pertama Agustus 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga ayam di sejumlah wilayah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya peningkatan permintaan, pasokan yang terbatas, kembali aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah, hingga meningkatnya biaya produksi seperti harga pakan.
Menurut Amalia, kondisi tersebut perlu diantisipasi meskipun rata-rata harga ayam secara nasional masih berada sedikit di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen.
Ia mengingatkan, apabila tren kenaikan harga terus berlangsung tanpa diikuti penguatan pasokan, harga ayam berpotensi menembus batas acuan yang telah ditetapkan.
“Ini mungkin perlu perhatian karena kalau nanti kenaikan harga ini terus dibiarkan, tentunya suatu saat nanti akan berada di atas HAP,” kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (10/8/2026).
Di sejumlah daerah, kondisi pasokan dan permintaan menjadi faktor yang berbeda-beda.
Di Bangka Selatan, misalnya, harga ayam terdorong naik setelah masyarakat meningkatkan pembelian ayam sebagai alternatif pengganti ikan. Cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi membuat aktivitas nelayan terganggu sehingga ketersediaan ikan di pasar ikut berkurang.
Situasi serupa terjadi di Bangka Tengah. Permintaan ayam meningkat karena masyarakat mencari bahan pangan pengganti ikan di tengah terbatasnya hasil tangkapan nelayan. Pada saat bersamaan, kembali berjalannya program MBG juga turut meningkatkan kebutuhan ayam.
Sementara itu, Kota Binjai mengalami tekanan harga akibat meningkatnya permintaan setelah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali beroperasi usai libur sekolah. Kebutuhan bahan pangan untuk program MBG membuat permintaan ayam di daerah tersebut meningkat.
Di Labuhanbatu Selatan, kenaikan harga lebih banyak dipengaruhi keterbatasan stok di pasar ketika permintaan sedang meningkat.
“Karena di sebagian kota dan kabupaten memang ada keterbatasan pasokan dan juga di beberapa tempat memang sisi permintaannya sedang meningkat,” ujar Amalia.
BPS juga menemukan pola serupa di Bengkulu Tengah. Permintaan dari agen dan pedagang pengecer meningkat untuk memenuhi kebutuhan SPPG dalam pelaksanaan MBG, sementara pasokan dari peternak dan pemasok belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.
Selain persoalan permintaan dan pasokan, biaya produksi juga menjadi faktor yang memberikan tekanan terhadap harga ayam. Kenaikan harga pakan menjadi salah satu komponen yang ikut memengaruhi biaya produksi di tingkat peternak.
Di Seluma, misalnya, peningkatan permintaan untuk kebutuhan MBG ikut mendorong harga ayam. Sedangkan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tekanan harga dipengaruhi kebutuhan MBG yang kembali meningkat serta naiknya harga pakan ayam.
Secara nasional, BPS mencatat rata-rata harga daging ayam ras pada pekan pertama Agustus 2026 mencapai Rp39.712 per kilogram. Angka tersebut masih berada sedikit di bawah HAP konsumen yang ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram.
Namun, persoalannya bukan hanya pada rata-rata harga nasional. BPS mencatat kenaikan harga ayam terjadi di 52,22 persen wilayah yang masuk dalam pemantauan. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras juga meningkat dari 110 kabupaten/kota pada pekan kelima Juli menjadi 188 kabupaten/kota pada pekan pertama Agustus.
Amalia mengatakan level harga nasional yang masih berada di bawah HAP tidak berarti tekanan harga di daerah dapat diabaikan. Sebab, beberapa wilayah telah mencatat kenaikan yang cukup tinggi dan bahkan harga ayamnya sudah melampaui batas acuan.
“Kalau secara level harga ini masih sedikit di bawah HAP,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, harga ayam ras tertinggi pada pekan pertama Agustus tercatat di Kabupaten Intan Jaya, yakni mencapai Rp100.000 per kilogram. Harga yang juga relatif tinggi ditemukan di Yahukimo sebesar Rp85.000 per kilogram.
Sementara itu, Kabupaten Pegunungan Arfak dan Pegunungan Bintang masing-masing mencatat harga sekitar Rp80.000 per kilogram. Adapun harga terendah yang terpantau BPS berada di kisaran Rp20.000 per kilogram.
Beberapa daerah bahkan menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni harga yang sudah melampaui HAP dan kenaikan IPH yang cukup besar.
Kota Binjai mencatat harga ayam rata-rata Rp42.000 per kilogram, atau sekitar 5 persen lebih tinggi dari HAP. Pada saat yang sama, kenaikan IPH di daerah tersebut mencapai 29,78 persen.
Kabupaten Kepahiang mencatat harga Rp48.000 per kilogram atau 20 persen di atas HAP, sementara kenaikan IPH mencapai 21,34 persen.
Kabupaten Bangka juga mencatat harga ayam Rp46.800 per kilogram dengan kenaikan IPH sebesar 20,92 persen. Harga tersebut sekitar 17 persen lebih tinggi dibandingkan HAP.
Di Seluma, harga ayam berada di level Rp45.000 per kilogram atau 12,5 persen di atas HAP, dengan kenaikan IPH mencapai 23,97 persen.
Sementara itu, Bolaang Mongondow Utara mencatat harga ayam Rp45.000 per kilogram dan kenaikan IPH sebesar 18,97 persen. Di Biak Numfor, harga ayam berada di angka Rp43.000 per kilogram dengan kenaikan IPH 20,16 persen.
Ada pula daerah yang mengalami lonjakan IPH cukup tinggi, tetapi harga ayamnya masih berada di bawah HAP.
Bangka Selatan menjadi salah satu daerah dengan kenaikan IPH paling tinggi, yakni 34,58 persen. Meski demikian, harga ayam di wilayah tersebut tercatat Rp38.800 per kilogram atau sekitar 3 persen di bawah HAP.
Labuhanbatu Selatan mencatat harga ayam Rp40.000 per kilogram, sesuai dengan HAP, dengan kenaikan IPH sebesar 25,75 persen. Bengkulu Tengah berada di angka Rp39.600 per kilogram dengan kenaikan IPH 25,41 persen.
Di Bangka Tengah, harga ayam tercatat Rp42.000 per kilogram dengan kenaikan IPH 24,70 persen. PALI berada di level Rp40.000 per kilogram dengan kenaikan IPH 23,02 persen.
Sedangkan Kabupaten Tulang Bawang mencatat harga ayam Rp30.000 per kilogram dan kenaikan IPH sebesar 22,04 persen.
BPS menilai perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama wilayah yang mengalami kenaikan harga cukup tajam dan sudah melewati HAP.
Pengendalian harga ayam tidak hanya bergantung pada upaya menekan permintaan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kesinambungan pasokan, kondisi produksi peternak, biaya pakan, distribusi, serta meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk program pemerintah seperti MBG.
Dengan menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan, tekanan harga di tingkat konsumen diharapkan dapat dikendalikan sehingga kenaikan harga ayam tidak berkembang menjadi persoalan inflasi yang lebih luas. (red)
- Penulis: REZA.Y
